Jumat, 16 September 2016

Satu Pohon Kurma Setara Nilai Sawit Satu Hektar Pertahun

1 Pohon Kurma = 1 Ha Pohon Sawit, Percaya ?

Dua setengah tahun berlalu sejak saya melalui situs ini mengajak masyarakat untuk mulai menanam kurma. Masalah demi masalah Alhamdulillah mulai teratasi, dan kini bahkan sudah hadir Asosiasi Kurma Indonesia atau Indonesian Date Palm Association – yang per hari ini anggotanya mendekati 700-an orang. Bila pertanyaan besar tentang berbuah-tidaknya kurma di Indonesia sudah saya jawab melalui tulisan Paket Ekonomi Berbasis Kurma dan Domba, pertanyaan besar berikutnya adalah bagaimana masyarakat perkotaan yang tidak memiliki lahan-pun bisa ikut bertanam kurma ?

Saya ada setidaknya dua jawaban untuk ini, pertama adalah menanam kurma dalam pot atau yang dikenal dengan tabulampot (tanaman buah dalam pot). Metode ini di Indonesia sudah banyak dilakukan untuk buah-buah lokal Nusantara seperti aneka jambu dan mangga.

Di Thailand petani kurma juga menggunakan teknik ini untuk mendeteksi kurma jantan dan betina. Jadi kurma-kurma yang dibiakkan melalui biji, ditaruh dahulu dalam pot atau polybag – sampai usia berbunga. Setelah berbunga kelihatan jantan atau betinanya baru ditanam secara permanen di lahan. Diperbanyak tanaman betinanya karena satu jantan cukup untuk membuahi 20-an betina.

Di kita teknik tabulampot ini bisa untuk menyiasati ketiadaan lahan untuk menanam kurma. Satu pohon kurma idealnya membutuhkan lahan minimal 64 m2 , sedangkan rata-rata masyarakat perkotaan tidak memiliki halaman seluas ini. Lantas bagaimana cara mengakalinya ?

Menanam kurma di atap rumah dapat menjadi solusinya. Hanya karena atap rumah tidak terbuat dari tanah yang subur, maka menaman melalui pot yang ditaruh di atap rumah dapat menjadi pilihan. Berbagai manfaat dapat diperoleh dengan cara ini.

Pertama kita tetap bisa menanam kurma di rumah meskipun rumah kita hanya memiliki halaman terbatas sekalipun. Kedua, kurma yang ditanam di atap rumah memiliki akses matahari terbaik – yang memang sangat diperlukannya – sehingga kurma yang ditanam di atap rumah cenderung memiliki pertumbuhan yang baik. Dan ketiga, atap rumah kita-pun menjadi hijau dan sejuk !

Meskipun menjadi solusi bagi yang ingin menanam kurma sebagai klangenan atau lifestyle, harus diakui bahwa menanam kurma melalui tabulampot belum ideal untuk yang ingin menanamnya secara serius dan professional. Adakah solusi untuk yang kedua ini, khususnya bagi mansyarakat pekerja perkotaan yang tidak memiliki lahan dan juga tidak memiliki waktu untuk menekuni tanaman kurmanya ?

Yang inipun sudah kami pikirkan dengan jawaban yang kedua. Dalam waktu yang tidak lama lagi, Anda akan dapat menanam kurma dengan cara menyewa lahan jangka panjang lengkap dengan tenaga yang akan merawatnya setiap hari. System yang kami miliki di iGrow sangat memungkinkan untuk ini, tinggal dicari lahan yang berpeluang terbaik untuk tumbuhnya kurma ini di daerah yang tidak terlalu jauh dari Jakarta dahulu – agar mudah menjangkau pasarnya.

Beberapa lokasi yang sudah kami survey yang kemungkinan cocok adalah Pandeglang, Indramayu, Subang dan Majalengka – semuanya kini sudah terhubung melalui jalan tol ke Jakarta – kecuali Pandegalang yang jalan tolnya baru akan selesai tahun 2018.

Apa sih menariknya pohon kurma ini sehingga sering sekali saya ulas di situs ini bahkan saya usulkan menjadi paket ekonomi bersama domba,  untuk menyelamatkan negeri ini dari krisis ekonomi khususnya pangan ?

Teman baik saya seorang pejabat senior di Bank Indonesia yang ikut mendalami kurma ini – bahkan beliau sempat mempelajarinya langsung dari petani-petani kurma yang sukses di Thailand. Beliau sampai pada kesimpulan satu pohon kurma memiliki nilai ekonomi setara dengan satu hektar sawit !

Saya sendiri semula kaget dengan hitungan beliau ini, tetapi setelah saya coba hitung sendiri– ternyata memang demikianlah adanya. Satu hektar pohon sawit yang baik rata-rata menghasilkan 30 ton per tahun, saya ambil contoh harga sawit yang berlaku di Kalimantan Timur saat  ini adalah Rp 1,150/kg TBS (Tandan Buah Sawit). Maka hasil tahunan 1 hektar lahan yang ditanami sawit yang baik saat ini adalah Rp 34.5 juta.

Kurma tropis yang tumbuh di Thailand bisa mencapai 300 kg/pohon per tahun. Rata-rata di dunia – umumnya di tanah empat musim dan kering sekitar 80 kg/pohon per tahun. Saya ambil data yang konservatif saja karena di Indonesia belum memiliki statistic keberhasilan tanaman kurma, sedikit di atas negeri kering empat musim – tetapi masih jauh dari Thailand – misalnya di angka 100 kg/pohon per tahun.

Teman saya di Indramayu menjual kurma segar panenannya Rp 350,000/kg , di Arab pasarannya SAR 100,- atau sekitar Rp 366,000/kg. Saya ambil harga yang di Indonesia saja Rp 350,000,-. Jadi 1 pohon kurma berpotensi menghasilkan Rp 35 juta per pohon per tahun bila dijual dalam kondisi segar. Sekarang Anda juga bisa melihat, potensi hasil 1 pohon kurma ini bahkan lebih tinggi dari potensi hasil  1 hektar pohon sawit !

Untuk meningkatkan kepastian hasil dan menurunkan tingkat resiko bagi para pioneer penanam kurma di Indonesia, banyak hal yang sudah dan bisa kita lakukan. Misalnya melalui Asosiasi, kini kami sudah bisa mengimpor langsung bibit-bibit kurma yang sudah jelas kelaminnya (betina) dari sejumlah pembibit ternama di luar negeri. Anggota asosiasi bisa memperoleh bibit at cost (tidak ada unusr keuntungan) dengan cara memesannya langsung ke Asosiasi.

Kemudian secara matematika, resiko juga bisa dikurangi dengan menanam lebih banyak dan menyebar. Bila secara sangat konservatif kita asumsikan keberhasilan tanaman kurma kita hanya 10 % misalnya, maka 1 hektar yang ditanami 160 pohon kurma – masih berpeluang berbuah sebanyak 16 pohon.

Karena 1 pohon kurma setara 1 hektar sawit hasilnya, maka dengan tingkat keberhasilan 10 %-pun tanaman kurma kita insyaAllah masih memberikan hasil 16 kali dari tanaman sawit !

Ada cara lain lagi untuk mengurangi resiko dan meningkatkan keberhasilan secara jitu, yaitu menunggu saja hasil tanaman kurma para pioneer tersebut. Tunggu setelah para pioneer tersebut berhasil menanamnya dengan baik, dimana dengan cara apa dlsb. baru setelah itu ditiru. Trade-off-nya dari strategi wait and see ini adalah Anda akan ketinggalan waktu sekitar 5 tahun.

BIla dalam urusan kurma ini di Indonesia, para pioneernya ketinggalan sekitar 17 tahun dari Thailand, Anda yang menunggu kami berhasil akan ditambah 5 tahun lagi – jadi akan ketinggalan 22 tahun dari para petani kurma di Thailand.

Hitungan saya bisa saja keliru, tetapi satu hal pasti – bahwa di rumah yang ada kurmanya penghuninya tidak akan kelaparan – karena ini adalah sabda Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang kita yakini kebenarannya.

Untuk membuktikan keyakinan inilah saya ajak-ajak sebanyak mungkin orang bisa menanam kurma dan berupaya keras meningkatkan keberhasilannya dengan menggalang kekuatan berbagai sumber termasuk membentuk Asosiasi Kurma Indonesia tersebut di atas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar